Dina Agustin, Cerita Sukses Tokopedia.com

Di sebuah toko situs jual beli online, sebuah kalimat tampak terpampang gagah: “ Kami menyediakan ratusan motif wall sticker transparent, semua motif ready stock.” Kutipan ini terpampang jelas pada halaman toko Dina Wallsticker di tokopedia.com, berjejer bersama ribuan toko yang menjual produk lain.

Di latar atas, sejumlah gambar wallpaper atau stiker dinding berbagai motif terpampang begitu jelas. Sementara di sisi kiri, ada sosok wanita berambut pendek mengenakan kaus merah muda dipadu celana hitam. Wanita itu tengah memegang tas kertas berwarna putih. Sementara di bahu kirinya tersampir tas model kasual.

Wanita dalam foto tersebut bernama Dina Sri Agustin. Usianya baru 37 tahun. Dia adalah pemilik halaman toko online tersebut. Melalui tokopedia.com, Dina mampu meraup pendapatan yang cukup besar dari usaha berjualan stiker dinding.

Halaman toko online miliknya itu sudah mendapat medali bintang yang disematkan oleh lima ribuan pembeli. Dalam dunia maya, lambang itu dikenal sebagai bentuk apresiasi netizen yang puas dengan pelayanan penjual toko online itu. Selain itu, toko tersebut sudah berhasil menjual 6.900 motif stiker dinding. Dan sebanyak 1.994 pengunjung menyatakan toko ini sebagai toko favorit.

Dina memulai berdagang stiker dinding di tokopedia.com pada akhir 2013. Awalnya, wanita berdarah Jawa-Sunda kelahiran Banjarmasin 31 Agustus 1977 ini hanya menjual puluhan motif. Tapi dalam dalam tempo kurang dari tiga tahun, usahanya berkembang sangat pesat. Karena maraknya permintaan ia kini menjual ratusan motif.

Hal itu berdampak pada sisi pendapatan wanita ini. Kini, dia memiliki omzet bulanan mencapai Rp 45 juta. Atau 11 kali pendapatan ketika dia masih bekerja sebagai pegawai kantoran.

Tidak hanya itu, jika dulu dia kesulitan meski hanya untuk mencicil sepeda motor, kini Dina malah telah memiliki mobil. Dia pun tidak lagi dipusingkan persoalan kekurangan uang.

***

Jatuh Bangun Terjun di Dunia Bisnis

Kisah sukses Dina sebagai penjual online bukan muncul tiba-tiba. Sebelumnya, Dina mengalami bagaimana sulitnya mencapai kebebasan finansial sebagai pekerja kantoran selama lebih dari enam tahun. Dia harus bekerja di pulau seberang, yang tentu berpengaruh pada pengeluaran.

Hal itu menjadi rutinitas yang harus dia jalani. Lambat laun, Dina merasakan kelelahan yang semakin hari semakin bertambah. Beban finansial yang dia rasakan semakin lama semakin membengkak, hingga akhirnya dia mengambil keputusan nekat dengan berhenti sebagai pekerja kantoran.

“Awalnya memang tanpa perhitungan. Nekat saja. Karena sudah lama bekerja tidak ada perbaikan juga,” ujar Dina kepada Dream.

Dina tidak memiliki rencana apapun setelah berhenti bekerja. Hanya, kala itu dia sempat tertarik dengan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Dia lalu memutuskan bergabung.

Kepada Dream, Dina mengaku sebenarnya tidak memiliki kemampuan berdagang. Saat bergabung dengan bisnis MLM, dia hanya sukses merekrut orang dan membuat jaringan. Meski demikian, Dina sempat merasakan kesuksesan menjalankan sistem MLM.

“Kemudian ada masalah dengan peraturan MLM. Ada downline saya melakukan kesalahan. Akhirnya jaringan rusak semua,” ungkap Dina.

Kegagalan itu sempat membuat Dina depresi. Penyebabnya karena tidak ada lagi pendapatan bulanan yang diperolehnya. “Bisa dibayangkan, saya sudah tidak punya pendapatan tetap. Bingung deh,” terang Dina.

Meski demikian, Dina tidak mau larut dalam kebingungan. Dia tetap mencoba bertahan dengan membuka kios di tempat tinggalnya, di Perumahan Malang Agung Sejahtera, Lawang, Malang. Di sana dia berdagang pulsa telepon. Pertimbangan dia, pulsa adalah barang yang dibutuhkan banyak orang.

“Tapi penghasilan yang saya dapat juga tidak banyak. Kesimpulan saya, komplek perumahan saya ini masih baru, sehingga lingkungan kurang mendukung,” kata dia.

Saat itu, Dina benar-benar merasakan kejatuhan bertubi-tubi. Hampir saja dia kehilangan harapan, hingga seorang adik iparnya datang dan menawarkan bisnis stiker dinding.

“Saya langsung berpikir ini barang unik. Akhirnya saya putuskan memulai jualan wallsticker,” kenang Dina.

***

Mengakrabi Dunia Maya

Meski merasakan pahit saat menjalankan bisnis MLM, Dina mengaku tetap mendapat pelajaran. Sebab, dari MLM, wanita ini mengenal dan belajar memanfaatkan internet.

“Awalnya saya jualan lewat Facebook, juga lewat blog,” kata Dina.

Langkah tersebut ternyata tidak membawa perubahan signifikan. Dina hanya mendapat penghasilan sebesar Rp500.000 setiap bulan.

Tetapi, Dina sudah terlanjur terbiasa menggunakan internet untuk berdagang. Dia tetap saja berselancar meski tidak ada pelanggan yang harus dilayani. Hingga pada akhirnya Dina menemukan situs tokopedia.com.

Situs itu menarik perhatian dia. Lantaran penasaran, Dina membuka semua informasi terkait situs tersebut. Termasuk membuka toko online di sana tanpa biaya. Dia pun rajin membaca petunjuk yang sudah tertera hingga paham dan memutuskan membuat halaman toko online sendiri di situs itu pada Desember 2013.

“Tidak lama setelah itu, selama tiga bulan saya serius melayani pelanggan, update produk, melayani keluhan, “ kata dia.

Dan inilah hebatnya: “Hanya dalam waktu tiga bulan saja, saya sudah bisa kredit mobil.”

Bisnis Dina pun semakin melejit. Penghasilan dia jelas makin bertambah. Kesuksesan itu membuat banyak orang ingin meniru langkahnya. Tidak jarang, ada juga orang yang menjadi downship dari usaha Dina. Artinya, dia mengambil stiker dinding dari Dina tapi kemudian menjualnya kembali ke toko baru di situs tokopedia.com. Alhasil, persaingan menjadi begitu ketat.

Namun hal itu tidak membuat Dina merasa tersaingi. Dia malah mengajak teman-temannya untuk ikut membuka toko online melalui tokopedia.com.

“Sampai-sampai orang tokopedia.com mendatangi saya. Mereka heran, kok saya malah mengajak orang untuk bersaing. Bagi saya, semua punya peluang yang sama. Bahkan ada downship yang juga gabung tokopedia.com, padahal dia ambil barang dari saya, tetap saya layani,” kata Dina.

***

Tak Lelah Terus Belajar

Belajar, mungkin menjadi kata kunci yang dipegang Dina dalam menjalankan bisnis. Sejak mulai, Dina sama sekali tidak mendapat arahan dari manapun. Dia hanya mengandalkan ketekunan dalam membaca setiap detil informasi yang ada di internet.

“Mungkin itu yang membedakan saya dengan yang lain. Kebanyakan, orang malas membaca sehingga banyak yang tidak paham,” kata dia.

Dia membuktikan sendiri banyaknya orang yang jarang mau belajar. “Sampai sekarang saja, saya masih sering melayani orang yang bertanya bagaimana cara berbelanja online. Padahal di situ sudah ada tutorialnya,” ungkap Dina.

Selain belajar, Dina juga membagi tips lain yang menunjang kesuksesan dalam berbisnis secara online. Tips tersebut seperti respon yang cepat, dan tidak kalah pentingnya menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak penyedia jasa ekpedisi pengiriman paket.

“Karena kalau kita sudah cepat tapi ekspedisinya lama, nanti toko kita bisa dinilai memberi pelayanan yang buruk,” ungkap dia.

Dengan ketekunan, Dina kini sudah merasakan manisnya kesuksesan sebagai penjual online. Seperti apa yang dikatakannya pada Dream: “Apa yang saya sudah peroleh sekarang sudah cukup. Bahkan lebih.”

Kisah Dina mungkin bisa menjadi semacam inspirasi bagi siapa pun. Di tengah keterpurukan rupiah dan ancaman PHK di mana-mana akibat perlambatan ekonomi secara nasional, sosok Dina barangkali bisa menjadi contoh bagaimana bertahan di tengah situasi sulit. Melalui toko online, Dina pun membuktikan keputusannya berhenti sebagai karyawan kantoran dan beralih menjadi pedagang adalah keputusan tepat. (eh)

 

Sumber: Dream

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.